× Home Polling Quiz Dictionary Login
Avatar

Sang Penata Rambut Harare (Bab 5)

August 30, 2020 Novel 73 Views


The Hairdresser of Harare sebuah karya sastra karangan Tendai Huchu, pertama kali dipublikasikan tahun 2010. Mengisahkan kehidupan Zimbabwe Kontemporer dilihat dari sudut pandang Sang Penata Rambut yang bekerja di sebuah Salon di Kota Harare.

Hari berikutnya Dumisani tidak muncul. pun hari Rabu dan Kamispun juga tidak muncul. Aku tidak habis pikir bagaimana seseorang menyia-nyiakan sebuah kesempatan sebuah pekerjaan. Kita semua tahun bahwa 90% penduduk adalah pengangguran! Nyonya Khumalo datang ke Salon setiap hari dan makin terlihat sedih dari jam kejam.

"Mungkin dia tidak akan datang lagi, " katanya.

Hari ini hujan dan salon sepi hanya ada satu pelanggan yang sedang ditangani oleh Memory. Aku mendengarkan suara tetesan air hujan yang menimpa atap seperti ribuan pluru kecil. Langit abu-abu dan sangat berat untuk membayangkan bahwa dibalik awan tersebut matahari masih bersinar.

"Sudah dengar kabar terbaru tentang Patricia?" tanya Memory yang suka sedikit gosip seperti kami.

"Ayo ceritakanlah."

"Aku mengetahui sedang hamil. Kalian tidak akan percaya ini."

"Aku berusaha untuk percaya pada anak itu."

"Dia mengandung anaknya Pastor Chasi."

"Jangan becanda! Pastor dari Gereja New Jerusalem. Aku tidak percaya"

"Itulah yang kamu dapatkan dari Gereja Pentecostalmu." sela Ny Khomalo.

"Dia penganut Katolik yang setia. Dan menjadi anggota serikat dengan seragam biru ketika perghi Misa."

"Bukankah Pastor Chasi sudah menikah?"

"Dia telah bersitri dan memiliki dua anak."

"Bukankah itu Gerejamu Vimbai?"

"Bukan. Aku jemaat di Faith Ministries."

"Dia tidak mengakui anak yang dikandungnya."

"Itu gossip biasa dan bukan cerita baru jika Pastor menghamili Jemaatnya. Dan dengan mudah berbalik dan mengatakan bahwa itu dilakukan oleh Roh Kudus. Kemungkinan Patricia akan diberi sejumlah uang dan disuruh diam. Sungguh tidak bermoral. Itulah kenapa saya selalu diam ketika ada gosip itu.

Aku masih sangat muda ketika melahirkan Chiwoniso. Ayahnya Pengusaha terkenal. Sembilan belas tahun dan pengangguran. Aku masih tinggal berama orangtuaku. Namun suatu hari ketika pulang dari toko sebuah mobil menepi. Aku terkejut melihat Philip Mabayo, seorang flamboyan, orang yang berpenampilan menarik yang selalu muncul di TV dan namanya sering terpampang di koran hampir setiap hari. Dia berumur tigapuluhan namun telah memiliki uang untuk dua puluh tahun dan seumur hidup.

"Bagaimana?"

Sebaiknya tidak usah dipertanyakan. Dia mengendarai Pick Up Ford wanra merah yang berstir kiri. Dan model ini hanya ada satu di negeri ini. Aku kira dia akan menanyakan arah yg akan dituju ketika dia menurunkan kaca jendela mobilnya. Jalanannya sangat ramai orang dan aku terkejut ketika dia mengatakan.

"Cewek...kamu sangat cantik. Ayo naiklah kita jalan-jalan."

"Tinggalkan aku sendiri." kataku, malu. Beruntung rumahku tidaklah jauh hanya memutar tikungan dan aku berlari ke pintu gerbang. Aku mungkin tidak bersalah namun juga tidak bodoh. Aku dengar tentang Sugar Daddies --om-om kaya yang memiliki hobi menjalin hubungan dengan gadi yang jauh lebih muda dan sangat royal dalam memberikan uang untuk kehidupannya--. Ketika kuceriitakan kepada saudari-saudariku. aku dibilang idiot. Aku tidak peduli. Aku memiliki pacar yang sebaya walaupaun dia tidak memiliki apa-apa. suatu hari anak tetangga datang dan bertanya kepadaku. Dia memberiku sebuah ponsel dan berkata ini untukku. Aku bertanya siapa yang memberikan ini, dia berkata dari seoranag lelaki.

"Jangan bodoh ambilah." Kata saudariku. Nokia berwana perak dengan screen berwarna, siap digunakan dengan Kartu SIM yang sudah terpasang. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku memiliki ponsel sendiri. Namun tidak dalam waktu lama aku tahu siapa yang memberikan aku ponsel ini. Kecurigaanku akhirnya terbukti ketika ponsel itu berbunyi, ada lelaki diseberang sana. Aku ingat Ibu bertanya kepadaku dari mana aku mendapatkan ponsel ketika aku ke ruangan lain untuk menerima telepon. Saudariku menggumam menyampaikan jawabanku.

"Siapa ini?"

"Ini Philips, Apakah kamu suka dengan ponseel barumu atau lebih suka Motorola?"

Aku tergagap.

"Tidakkah kamu ingin mengucapkan terima kasih kepadaku?"

"Terima Kasih."

Kebekuanpun mencair. Kami brbicara kira2 setengah jam sampai akhirnya dia berkata harus pergi. Tidak ada anggota keluargaku yang mempersoalkan ponsel ini dan aku mengganggap mereka memberikan persetujuannya. Suatu waktu dia menelponku dan kami berbeicara lebih lama dan kemudian mengajakku untuk pergi makan siang. Belum pernah sebelumnya dan aku mengiyakan.

Kami janjian untuk bertemu di sudut toko. Karena kalau di rumah orang tuaku tidak memungkinkan. Dia mengendarai BMW panjang berwarna perak. Aku tidak pernah naik mobil sebelumnya, dengan sedikit takut aku duduk disampingnya ketika dia membantu mengenakan sabuk pengaman. Udara sejuk dari pendingin interior dan ruang yang lega sangat mengagumkan. Hari ini dia tersenyum terus sambil kami mendengarkan musik tahun sembilan puluhan. Mobil menghantam jalanan belubang namun aku tidak merasakannya. Sangat nyaman didalam.

"Seperti inilah suasana Jerman," dia berkata. "Apakah kamu pernah ke Eropa?"

"Saudaraku ada di Inggris."

"Bagus, apakah dia di BBC?"

"Tidak dia ada pekerjaan lain."

"Maksudku British Bottom Cleaner." Dia minta maaf tiba-tiba ketika dia melihat aku tidak suka Saudara lelakiku dihina, walaupun aku tahu dia cuma bercanda.

"Kamu bilang kalian berenam, dia yang nomor berapa?"

"DIa yang kelima."

"Dan kamu si bungsu, tentunya. Oh itulah mengapa kalian begitu dekat.

"Mungkin suatu saat aku akan mengunjunginya. Dimana dia tinggal?"

"Slough."

"Oh ditempat itu! Aku memiliki flat di pusat London. Aku akan mengijinkan dia menggunakannya dengan gratis."

Dia lelaki berpengalaman yang telah berkeliling dunia, sedangkan aku hanyalah gadis lugu. Satu-satunya tempat terjauh yang pernah aku kunjungi adalah Murombedzi  --110 km arah barat Harare--, ke tempat nenekku. Kami pergi ke Nando, dia menanyakan apa yang aku inginkan. walaupun aku telah membaca daftar menu namun aku tidak tahu harus memilih apa. Sehingga dia memesankan aku Nasi dan Peri-peri Ayam untukku. Nasi pedas yang lebih kaya rasa dibandingkan dengan Sadza dan sayuran hambar yang biasa kami makan sehari-hari di rumah. Aku tidak pernah menggunakan garpu dan pisau untuk makan, namun Philip tidak mempermasalahkan ketika aku menggunakan sendok dan tangan untuk makan. Jika dipikir-pikir ini adalah gaya hidup tinggi.

Aku malu-malu hari itu. Ini mungkin bukan lugu namun malu-malu. Philips menguasai hampir seluruh pembicaraan. DIa menikmati pembicaraan tentang bisnisnya. Aku menyukai ketika dia menceritakan tentang saham, tentang apa yang tidak aku ketahui. ini membukakan pikiranku tentang dunia baru. Dia menatapku seolah-olah aku adalah sesuatu yang paling berharga di alam semesta. dan mengacuhkan sapaan orang.

"Hello Tuan Mabayo," ketika orang itu lewat. Aku dapat merasakan tatapan iri wanita yang bermake-up tebal dan modis namun membosankan melewatiku, sepertinya mereka sekota heran gadis sepertiku bisa berkencan Philips Mabayo. Namun aku belum mendapatkan Philips Mabayo. Philips tahu aku memiliki pacar dan dia menghormati itu, dia hanya ingin berteman denganku.

"Apakah kamu mau ke rumahku?" Dia bertanya.

"Tidak".

"Baiklah." Dia melihat jam dan berkata

"Aku harus melanjutkan suatu pekerjaan dan aku tidak bisa mengantarmu pulang. aku rasa kamu tidak keberatan untuk pulang naik Kombi bukan?" Dari dompetnya dia mengeluarkan lembaran uang tanpa repot-repot untuk ,menghitungnya. Pada masa itu, sangat lumrah membawa uang dalam jumlah banyak di dompet.

"Ini terlalu banyak."

"Oh Ya?" Dia terlihat terkejut tanpa dibuat-buat. Aku seharusnya tahu berapa ongkos kombi. Gunakan sisanya untuk membeli sesuatu yang menyenangkanmu.

Ini sejumlah uang yang cukup untuk memberi makan seluruh keuargaku selama sebulan.

Aku menceritakan ini kepada saudariku mereka iri, dan berharap bisa membawakannya sepotong ayam. Kami menunggu teleponya malam itu namun dia tidak menelpon. Aku rebahan disekeliling tubuh saudariku. aku membayangkan pacarku dia datang dengan menggunakan sandal jepit, membandingkan dengan Philip yang dunia ada dikakinya. sampai aku tertidur masih berkecamuk itu dikepalaku.

Aku membeli baju baru dengan uang yang diberikan kepadaku. Menata rambutku dan merias wajahku. Tak seorangpun di rumah yang menanyakan dari mana aku memperoleh uang. Ayahku hanya diam dan ibuku mengatakan betapa aku terlihat cantik. Philips memberiku ponsel baru yang berkamera. dan ponsel lamaku yang baru sebulan aku berikan kepada Saudariku. Menengok ke belakang ini sangat romantis. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku dimanjakan. Aku berhenti memikirkan pacarku dan tidak menjawab surat cintanya yang dikirimkan kepadaku.Lelaki itu memiliki cara dengan kata-kata. Aku jatuh cinta padanya, namun aku tidak dapat melihat ada monster dibalik kemewahannya. Sangat mahal aku harus membayar kenaifanku ini.

--Bersambung--