× Home Polling Quiz Dictionary Login
Avatar

Sang Penata Rambut Harare (Bab 11)

October 09, 2020 Novel 185 Views


The Hairdresser of Harare sebuah karya sastra karangan Tendai Huchu, pertama kali dipublikasikan tahun 2010. Mengisahkan kehidupan Zimbabwe Kontemporer dilihat dari sudut pandang Sang Penata Rambut yang bekerja di sebuah Salon di Kota Harare.

Berkerja menjadi sebuah cobaan hidup yang berat. Aku merasakan sakit badan setiap kali pergi bekerja di salon. Untuk menahan ketukan musik yang mematikan pikiran dan mereka semua terlihat lebih memilih penyiksaan itu sendiri. Salon menjadi lebih sibuk, nyatanya kita memiliki pelanggan yang lebih banyak yang telah terisi dalam buku perjanjian dari pada yang dapat kita tangani. Dumi tidak puas. DIa menurunkan poster lama yang telah terpasang di dinding dan menggantinya dengan yang lebih mengkilap yang katanya berasal dari Amerika. Di seberang kursiku ada poster dengan gambar wanita mini dengan kepang rambut yang rumit yang terpaksa harus aku lihat setiap hari. Sisi lainnya berwarna cerah, iklan berbagai gaya rambut yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Poster yang benar-benar menarik perhatianku adalah poster dengan lelaki yang tersenyum dan saling menatap mata dengan seorang perempuan, dibawahnya ada bungkusan femidom yang diikat dengan pita berwarna merah. Kami adalah salon dan bukan rumah bordil, Ya Tuhan. Bukan hanya dari menata rambut kita memperoleh uang, Ny Khumalo sekarang juga mendorong kita untuk menawarkan Femidom kepada perempuan yang duduk dilayani di kursi. Aku tidak pernah merasa lebih dari pelacur sepanjang hidupku, kemana aku harus pergi, adakah yang akan memperkerjakanku.Pikiran ini tercetus begitu saja.

"Sepertinya ada yang kamu pikirkan. Kamu tidak seperti biasanya hari ini." Lucy adalah satu dari pelangganku. Aku bersyukur dia tidak ikut-ikutan dengan pelanggan lain yang ingin ditata rambutnya oleh Dumisani.

"Ini masa yang sulit, Saudariku."
"Ini berlaku untuk semua orang. Masa yang sulit tidak pernah membunuh."

Tentu mudah baginya mengatakan itu, dengan suami dan keluarga yang sempurna. Aku pernah melakukan kepang cornrow (kepang kecil dan banyak ditata seperti barisan jagung) melintang disekeliling kepalanya.

"Ah ini terlalu ketat."

"Maaf, akan aku longgarkan"

"Dia pasti sedang memikirkan lelaki." Komentar Agnes dengan sinis.

"Kenapa kamu diam saja?" balasku.

"Seseorang sedang suasana hati yang buruk hari ini. Bisa jadi benar hanya seorang lelaki!" Canda Dumi dengan mengedipkan matanya. Dan dia benar ini adalah lelaki dan itu adalah dia.

"Kamu tahu aku hanya menggodamu Vimbai." Dia mencoba menenangkanku.

Aku sedang tidak berada dalam suasana hati memaafkan dan mengabaikannya, aku sedang bekonsentrasi dengan kepala didepanku. Aku harus menggerakkan jemari tanganku sesuai keinginku secara sadar fokus dengan apa yang aku kerjakan. Mengingat sebelum kedatangan Dumi semua bergerak alami seperti berjalan. Seperti sekarang aku baru sadar ada kekurangan dalam pekerjaanku tidak seperti sebelumnya, Satu baris kepang cornrow lebih terbal dari yang lainnya. Aku bongkar perlahan dan aku perbaiki. Lucy gelisah. Aku tahu dia berpikir kepangannya terlalau ketat. Namun aku selalu menyelesaikannya. iIni menjadi masalah yang membuatku merasa tidak enak.  Apakah aku pernah melakukan kesalahan ini bertahum-tahun?

Lucy tersentak.

"Aku lupa memberitahumu bahwa Abbas dan Anak Lelakinya akan mendapatakan pengiriman gula besuk."
"Apakah toko itu ada di pusat kota?"

"Ada di Rezende."

"Bisakah kamu mengusahakan beberapa untuk kami?"

"Saudara lelakiku berkerja disana dan aku ada disana besuk pagi, kamu harus menyuruh orang untuk menemuiku pagi besuk."

"Kami akan kirim..."

" Satu dari kalian harus datang karena harus yang aku kenal, karena besuk kalian juga harus belkerja di salaon baiknya satu orang saja yang menemuiku."

Itu adalah pusat jaringan dimana kamu dapat mendengar apa yang sedang terjadi. Penting ketika permintaan sangat singat. Tepung Jagung, gula, garam, minyak goreng adalah kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan khususnya ketika bisa mendapatkan harga murah dan menjualnya kembali ke pasar gelap untuk mendapatkan keuntungan cepat, Aku mengajukan diri untuk bertemu Lucy besuk.

Keesokan paginya aku berangkat dari rumah lebih awal, memastikan Maidei memanaskan air untuk mandi Chiwoniso. AKu mematikan pemanas air untuk menghemat listrik. Dan harus dilakukan sampai segeala sesuatunya ada peningkatan. Aku dapat tumpangan dari seorang lelaki dan menurunkannya di kantor pos utama, Butuh waktu untuk menyeberang jalan karena lampu lalu lintas tidak berfungsi dan tidak ada yang mau mengalah kepada penyebrang jalan Jason Moyo Avenue. Dengan Heroik aku berlari berkelok-kelok menghindari kendaraan yang melaju mengetahui ada pejalan kaki yang memerlukan perhatian. Aku berhenti untuk mengatur napas, bersandar di pagar yang membentengi Balai Kota. Bangunan Tua peninggalan kolonial dengan kejayaannya seakan mengejek kemerdekaan Zibabwe yang tidak bisa berbuat apa-apa karena gedung itu masih berfungsi sebagai Balai Kota. Sementara bendera Zibabwe terkulai lemah di langit yang berkabut asap.

Ada ciri aneh didepan alun-alun. Yaitu berupa bola dari logam keperakan dengan paku yang dibuat oleh Murid Tingkat D Level O yang terkesan tergesa-gesa dalm pembuatannya. Air Mancur yang tidak pernah mengalir airnya. Dan berdasarkan ingatanku biaya untuk pembuatannya hampir mendekati satu juta, saat itu cukup mahal walaupun sekarang satu juta tidak lebih untuk membeli satu potong roti. Dan itu cepat rusak hanya berselang satu bulan setelah diresmikan. Semua di balai Kota telah rusak kecuali Mercs resmi yang dipasang di gerbang keluar masuk. yang menunjukkan ada bisnis penting di dalamnya.

Yang mengejutkan bagaimana hanya sepuluh persen dari jumlah penduduk yang memiliki pekerjaan, jalanan penuh dengan orang saat berpapasan tadi pagi. Aku sempat bertemu dengan orang yang hanya menjual perment dan sebatang rokok saat berbelok di Jalan Robert Mugabe. Dari situ beberapa langkah lagi memasuki jalan Rezende. Abbas dan Sons toko India satu dari beberapa toko di kota. Ada enam puluh orang dalam antrian disana, Sebuah tangan mencolekku dari belakang. Dengan cepat aku menoleh kebelakang sambial memeluk erat tasku. 

"Ini aku." Kata Lucy. Dia mengenakan bandana dari sapu tangan untuk menutupi rambutnya seolah-olah malu dengan gaya rambutnya yang telah kutata kurang dari 24 jam sebelumnya.

"Mana uanganya?" Dia mengambil uang yang kupegang dan memasukkannya kedalam dompet yang berupa tas besar. Dia tidak perlu mneghitungnya. Kita dapat mengetahui jumlah uang dari beratnya. Tidak masalah walaupun jumlahnya kurang beberapa ratus ribu. Nilai uangpun akan turun dari jam ke jam.

"Selamat Pagi." Kataku padanya

"Ayo memutar ke belakang." Dia berbisik.

Kami melangkah melewati tumpukan sampah dan menghindari genangan air berwarna cokelat saat menyusuri jalan belakang. Lucy memperhatikan sekeliling kawatir ada seseorang yang mengikuti kami. Dia menyalakan ponsel, membisikan beberapa kata dengan cepat dan mematikan ponsel.

"Tunggu sebentar dia akan segera keluar."

Segera setelah satu setengah jam pintu tiba-tiba terbuka dan lelaki kurus dengan wajah bersinar melangkah keluar.

"Chop-chop." Dia berkata sambil menyodorkan tas kepadanya dan mengabil uang dengan gerakan yang cepat. Jantungku berdegup kencang layaknya kami sedang bertransaksi narkoba. Segera setelah selesai lelaki itu masuk kembali kedalam dan menutup pintu. Dan kami telah mendapatkan gula. Lucy memberiku tiga bungkusan dua kilogram berwarna putih dan satu bungkus dua kilogram berwarna coklat. Pertama aku harus kembali ke salon, dan membagi bungkusan ini menjadi bagian yang lebih kecil sekitar satu kilogram atau kurang per bungkus karena kami harus berbagi dengan teman-teman yang telah iuran uang untuk mendapatkan gula ini seperti yang diumumkan Lucy kemarin. Aku menuju jalan dan melihat antrian mejadi dua kali lebih panjang mengular sampai jalan Robert Mugabe. Orang-orang saling dorong. Sekelompok polisi dengan tongkat terlihat di depan dan mengatur antrian dan memastikan semuanya tetap di tempat antriannya. kenyataannya mereka memberikan waktu kepada beberapa orang untuk berdiri didepan antrian mereka. Aku kembali dengan tersenyum dan merasa seperti malaikat, andai saja tidak ada bungkusan di kanan kiriku tentu aku sudah melayah diatas gedung pencakar langit.