× Home Polling Quiz Dictionary Login
Avatar

Sang Penata Rambut Harare (Bab 8)

September 17, 2020 Novel 85 Views


The Hairdresser of Harare sebuah karya sastra karangan Tendai Huchu, pertama kali dipublikasikan tahun 2010. Mengisahkan kehidupan Zimbabwe Kontemporer dilihat dari sudut pandang Sang Penata Rambut yang bekerja di sebuah Salon di Kota Harare.

Aku tiba di kantor lebih pagi dan tepat waktu pada Senin pagi. Aku merasakan indra keenam bahwa selama seminggu aku tidak di Salon ada sesuatu yang luar biasa telah terjadi. Ekpresi wajah Agnes semakin menguatkan ketakutanku itu. Dia hanya membuka Salon dan merapikan stok.

"Mama ingin bicara denganmu nanti."

"Tentang apa?"

"Aku tidak tahu. mungkin terkait kebiasaan telatmu."

"Setiap orang tahu jam berapa aku datang. Dan apa yang kulakukan dengan setengah pelanggan yang tetap setia karena pelayananku." Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan Agnes, dia terlalu bodoh. Lalu bagaimana hari pertama Dumisani berkerja? Aku mencoba untuk tidak terdengar tidak tertarik dengan rasa penasaranku.

Agnes meletakkan Produk-produk  untuk rambut dia menatapku. Ada kilau dimatanya, keluar aura iblis darinya.

"Kamu akan mengetahuinya nanti." Dia berkata dan menungguku membalas kata-katanya. Jadi jelas dia ingin aku menghiba untuk informasi ini. Aku mengambil ketel dan mendidihkan air.

Dumisani, Yolanda dan Memory datang bersamaan. Mereka tertawa seakan-akan mereka telah berteman lama.

"Ini dia anak ajaib." Agnes berkata sambil memberi pelukan yang mungkin akan tercekik oleh lipatan lemak jika saja dia tidak menarik mundur untuk mengambil napas.

"Kamu pasti Vimbai." Dia berkata sambil menghampiriku dan mencium pipi kanan dan kiriku. Aku tidak pernah melakukan cipika cipiki untuk menyambut teman yang sepeneuhnya tidak pantas.

"Aku menantikan untuk melihatmu bekerja.: Katanya dingin.

"Itu tidak benar. Aku telah mendengar tentang pekerjaanmu. Tak sabar aku ingin melihatnya. Ada begitu banyak yang dapat saya pelajari darimu." Dia tertawa dan aku merasa ditelanjangi.

"Dumi bohong. Dia tahu hasil kerjanya lebih baik dari kalian." Kata-kata itu menenggelamkanku, seakan-akan Agnes menelisik wajahku, mencoba untuk menerima imbas dari keinginannya, Alisku mengkerut menahan hasratku.

"Bukan itu masalahnya." Kata Dumi dengan sedikit tersenyum.

Aku tengok Yolanda dan Memory dan mereka mendudukkan pandangannya ke lantai. Teringat diriku ada ratu lebah di salon ini dan kutuangkan secangkir teh. Aku mempersiapkan kursi dan bersiap untuk pelanggan pelangganku.

Dia datang tidak lama setelah itu. seorang wanita profesional dengan make up yang ramai. Dia bukan pelanggan tetap, jadi aku arahkan ke kursiku. Ny. Khumalo menekankan untuk pelanggan baru aku yang menangani agar puas dan datang kembali.

"Aku mencari lelaki bernama Dumi untuk megerjakan rambutku." dia berkata sambil duduk.

"Tidak apa-apa akan aku kerjakan." jawabku

"Aku ingin Dumi, Kemarin Sabtu Rambut keponakanku ditangani olehnya dan dia berkata katanya hasil kerjanya sangat bagus. Teman-temanku saling bertukar padangan. Dumi beranjak untuk menyelamatkanku.

"Jangan khawatir Vimbai, ini akan memberi kesempatan kepadamu untuk menghabiskan tehmu.

Dia berbalik ke wanita itu dan bertanya, Siapa Saudarimu?"

"Mercy, harusnya kamu ingat dia. Kulitnya bersinar seperti gadis berwarna.

"Ah.. aku ingat sekarang," kata Dumi dengan senyum khasnya.

"Aku ingin kamu tata rambutku dengan gaya yang sama dengannya."

"Oh tidak."
"Apa maksudmu?" kata perempuan itu sambil beranjak berdiri bersamaan dengan itu Ny Khumalo tiba di salon,

"Dia pelanggan. layani sesuai keinginannya." Aku lebih suka Ny Khumalo mendengar aku mengatakan itu.

"Aku akan memungut ongkos dari orang lain."

"Apa masalahnya?" Ny Khumalo bertanya.

"Dia ingin memiliki rambut dengan gaya seperti Saudari perempuannya, tetapi saya bisa membuat dia lebih baik dari itu."

"Perempuan itu terdiam. Kekuatan kesombongan, menginginkan untuk mendapatkan setingkat lebih tinggi. "Apa saranmu?"

"Aku ingin memotong pendek rambutmu."

"Secara naluriah dia meraih rambutnya sebahu. Itu terlihat lebih baik. Aku kira dia akan lari, tetapi dia terdiam seperti kelinci yang tertangkap cahaya, seperti Dumi memvisualisasikan lebih dekat. Dia menraih tangannya dan memvisualisasikan lebih dekat.

"Kamu memiliki mata yang indah, dan rambut yang panjang menghilangkan keseimbangan wajahmu yang bagus. pipimu indah namun rambut panjangmu menghalanginya. Percayalah."

Ada kekuatan yang dimilikinya yang membuatnya terpikat. Diam-diam dia kembali duduk. Dari gerakannya aku melihat dia tidak percaya diri. Dumi mengambil handuk besar dan ditutupinya cermin agar dia tidak bisa melihat bayangannya di cermin.

"Percayalah." di berkata dengan lembut. Kami semua menyaksikan dan mencoba memahaminya.  Dia mengambil gunting besar dan dengan agerakan cepat dia menggunting rambut disisi kiri kepalanya. Wanita itu menggigil, rambutnya melayang dan jatuh di lantai keramik, mendarat di kota hitam putih. Jika saja cermin itu tidak ditutup dengan handuk tentu sudah melarikan diri. Dia mulai menggunting rambut dengan semangat.dan potongan rambut itu menjadi gundukan kecil di kakinya.

"Ayo keluar. Ada yang ingin aku bicarakan." Ny Khumalo berkata kepadaku. Aku keluar dengannya dia menarikku ke halaman agar pembicaraan kami tidak terdengar. Dua balita setengah telanjang, anak dari mendiang saudara lelakinya sedang bermain dibawah tali jemuran.

"Apakah semua baik=baik saja?" Tanyaku.

"Kita harus mendiskusikan tentang kehadiranmu, Aku mendapat laporan kamu terlambat masuk setiap hari, sementara pelanggan menunggu. Aku tidak akan membiarkan kebiasaan ini. Aku berharap kamu mengerti. Dan ini sebagai peringatan terakhir. Dia pergi menjauhiku tanpa menunggu reaksiku. Aku ingin mengatakan sesuatu namun tenggorokanku tercekat. Aku ingin mengatakan kepadanya sebagian besar pelanggan di salonya menginginkanku dan aku bisa pergi kapan saja meninggalkan dia tanpa pelanggan. Menjadi terbuang adalah mimpi buruk untuk wanita dan aku muali merasakannya.

Semua menjadi kabur ketika aku masuk salon. Aku menatap setengah cangkir teh yang tidak bisa lagi aku habiskan. Dumi bekerja dengan penuh semangat, seperti orang kesurupan dia memberikan sentuhan terakhir pada rambut wanita itu. Dia membungkuk di kursinya dan memejamkan mata selama rambutnya dikerjakan. Ada suasana cair yang sebelumnya tidak pernah aku lihat. Akhirnya selesailah pekerjaan itu. Dia membungkuk didepan wanita itu dan mengatakan.

"Apakah kamu siap untuk melihat penampilan barumu?"

Dia membuka penutup cermin dan dengan penuh gaya berdiri disambing dengan membungkuk. Wanita itu berdiri dan mendekati cermin. Dia menyentuh wajahnya seakan-akan memastikan apakah benar dirinya. Aku melihat kilatan dimatanya, sambil mengigit bibir bawahnya. Kami semua menahan napas, putus asa akan keputusannya. Dia menelan ludah. Dumi melangkah dibelakang wanita itu dan mengintip ke cermin melalui bahunya.

"Aku terlihat seperti Halle Berry." Dia terengah-engah. Suaranya berbisik nyaris tak terdengar.

"Ada beberaoa wanita seperti Halle Berry dan Toni Braxton yang kecantikannya luar biasa, seperti wajahmu yang unik perlu diperlihatkan kepada dunia. Dia membetulkan tusuk konde di rambutnya untuk memastikan agar lebih sempurna.

Gadis-gadis di salon spontan bertepuk tangan memberikan aplaus yang tidak pernah aku lihat sebelumnya di salon ini atau dimanapun. Wajah Dumi bersinar cerah. Wanita itu mengucapkan terima kasih yang mendalam. Dan Dumi mengucapkan terima kasih kembali karena telah diperbolehkan untuk menata rambutnya. Aku merasakan telapak tanganku berkeringat dan dadaku mengencang. Tidak pernah kurasakan ini sebelumnya, aku tidak tahu apa namanya namun kemudian aku menyadari kalau aku cemburu. Ny Khumalo memperlihatkan kebanggaan dengan senyuman seorang ibu saat menerima pembayaran dari wanita itu. Dia lebih jauh lagi mengklaim bahwa dia sendiri yang melatih Dumisani. Teringat saat dia menyanjung pelangganku dan membual tentang kemampuanku. AKu mencoba untuk menenangkan diri dan berkata untuk diriku kalau aku lebih baik, namun ketika melihat supermodel meninggalkan salon, keraguan merasuki diri.

"Aku bekerja di Deloitte and Touche sebagai akuntan, Aku yakin semua gadis disana ingin tahu dimana aku mendapatkan model rambut ini. Dan aku pasti akan menceritakan Pria ini kepada mereka."

Benar apa yang dikatakannya, sore itu telepon berdering dengan akuntan, penerima tamu dan sekretaris dari perusahaan itu untuk booking di salon.