× Home Polling Quiz Dictionary Login
Avatar

Sang Penata Rambut Harare (Bab 6)

September 08, 2020 Novel 68 Views


The Hairdresser of Harare sebuah karya sastra karangan Tendai Huchu, pertama kali dipublikasikan tahun 2010. Mengisahkan kehidupan Zimbabwe Kontemporer dilihat dari sudut pandang Sang Penata Rambut yang bekerja di sebuah Salon di Kota Harare.

Telepon berdering.... dan Ny. Khumalo melompat secepat yang memungkinkan dari tubuhnya yang berat. Ini adalah panggilan yang telah dia tunggu-tunggu.

"Aku turut berduka mendengarnya... kamu dimana... oke..apakah kamu membutuhkan waktu tambahan...itu bagus....apakah kamu yakin karena tidak ada antrian.... tidak masalah... sampai ketemu besuk."

Senyum lebar menghiasi wajahnya. Dia melongok keluar masih hujan. dan bertanya apakah ada antrian di dalam daftar buku booking. Tidak ada lagi.

"Kalian dapat pulang jika ingin pulang sekarang, Aku dan Agenes akan baik-baik saja. Anak itu, Dumisani akan mulai bekerja besuk. Temannya meninggal tanpa fa,mili di Zibabwe. Dan dia harus mengurus pengiriman jenazah  ke Kanada sendirian, Aku tahu ini ada sesuatu yang tidak benar tapi dia terlihat sangat bertanggung jawab untuk hal yang bukan urusannya.

Aku tidak masuk salon hari Jumat karena ada acara peringatan kematian Saudari Lelakiku Robert.

Menunggu Kombi saat pulang adalah pekerjaan yang menakutkan. Masalah pertama adalah mendapatkan salah satunya, khususnya yang berasal dari Samora Machel dari tempat aku menunggu, diluar Jalan Fourth dibawah peti mati bertingkat berwarna abu-abu itu adalah milik departemen pemerintah yang bertanggung jawab atas penerimaan pajak. Banyak kombi namun mereka terlalu lama menghabiskan waktu untuk antri pembelian BBM, yang hanya menerima mata uang asing atau kupon, walaupun ini adalah illegal untuk bertransaksi dengan menggunakan mata uang asing.

Ada sebuah kerumunan besar dari kami yang sedang menunggu ketika beberapa mobil melintasi jalur ganda. INi jam sibuk namun mereka bergerak perlahan untuk menghemat bahan bakar. aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak memikirkan hal sekilas dalam hidupku ini ketia masuk ke mobil. Beberapa pengemudi berhenti untuk menaikkan orang, dan ini namanya pembajakan namanya dan illegal. Mereka sepertinya akan menuju ke daerah kaya di pinggiran utara.

"Sekarang jam berapa ya? Seorang lelaki dengan baju kebesaran dan murah bertanya kepadaku. Sepertinya dia Pegawai Negeri SIpil.

"Jam 17,30"

"Terima Kasih." Dia mendekatkan dirinya

"Kamu seperti tidak asing bagiku, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"

Aku tak menghiraukannya, ngobrol di tempat pemberhentian bis bukanlah hal yang baru. Dia tetap bertahan.

"Apakah kamu akan menuju Christ Ministries?"

"Dia terlihat sebagai lelaki yang menyenangkan. Kasihan sebenarnya, dia tidak pernah tahu jika aku tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun dalam enam tahun terakhir ini. Dan tidak berniat merubahnya. Lelaki sudah tidak menarik lagi bagiku. Mereka tidak dapat dipercaya.

"Kamu pikir kamu istimewa? Padahal cantikpun tidak. Akhirnya dia menyerah sambil memaki

"Kamu akan mati tanpa bersuami!"

Sebuah Kombi datang dan aku melompat masuk, senang rasanya bisa kabur. Lelaki tidak suka untuk ditolak. Mereka dibesarkan dengan terpenuhinya semua harapannya. Aku terjepit diantara penumpang dan sulit bernapas. Kursi tempat duduk didesign untuk tiga orang dan diisi untuk empat orang. Orang Hwindi membungkuk dipangkuan kami karena tidak ada tempat yang tersisa lagi. Penumpang berjubel untuk memaksimalkan keuntungan. Aroma keringat dan bau napas terasa menyengat. Bahkan setelah mengalami ini seumur hidup tetap saja tidak bisa menikmati perjalanan seperti ini. Teringat olehku ketika Harare memiliki Armada  Bus yang memiliki jadwal tetap.  Tidak seperti Kombi yang tanpa jadwal dan tidak memiliki aturan sehingga kita berharap bahwa kita bisa sampai tujuan yang diinginkan karena seringkali Kombi merubah rute semaunya dan membuatmu terlantar.

Satu kelebihan Kombi adalah dapat berhenti dimanapun. Aku diturunkan di tanda larangan berhenti dan sampailah aku di rumah

Hiruk pikuk kota besar tidak akan bisa disamai oleh kota dengan kepadatan rendah. Aku lulus SMA dengan spektakuler gagal di Level O. Saat istirahat anak-anak bermain debu dan sepakbola. Jalanan penuh dengan orang-orang yang hilir mudik. Beberapa membawa cangkul untuk merawat ladang mereka, kawatir jika Dewan Kota akan memangkas pohon-pohon ilegal mereka.

Tukang sepatu duduk di sudut jalan. Bisnis berjalan cepat. Sejak Pemerintah menerapkan Kebijakan Memihak ke Timur, negara dibanjiri sepatu murah dari China yang hanya bertahan beberapa langkah sebelum akhirnya hancur berantakan. Kita tidak membuangnya. Namun untuk cadangan juga menjual manyetera, sepatu yang dibuat dari bahan ban bekas, walaupun penampilannya jelek namun dijamin tahan lama. Aku mempunyai sepasang di rumah.

Banyak penjual freezits, maputi, jagung, buah, telur dan sayuran. kalau diamati lebih banyak penjual dari pada pembelinya. Untuk kondisi tingkat pengangguran yang tinggi setiap orang berusaha untuk berdagang, hampir setiap rumah ada kios didekat gerbang rumahnya, ditungguin oleh anggota keluarga yang tidak diragukan anak-anak yang terlihat bosan menunggu datangnya pelanggan.

Aku melihat halaman belakang salon tempatku belajar saat bisnis ini berkembang. Bisnis ini ramai dan melayani wanita yang tidak bisa pergi ke salon kelas atas seperti salon milik Ny. Khumalo. Menggunakan bahan-bahan yang murah namun dapat disandingkan hasilnya dengan yang berada di kota.

"Sisi Vimbai, lama gak jumpa, " teman lama sekolahku Fortune memanggilku.

"Aku sibuk Sha." Aku ulurkan tangan untuk berjabat tangan, dia malah memelukku.

"Kamu terlihat sangat baik sekarang."

"Bukan begitu."

"Apakah kamu sudah bersuami lagi, cerita dong?"

"Aku masih tetap sendiri, dan belum ada niat untuk mencari. Apa yang kamu kerjakan sekarang?"

"Aku punya anak cewek sekarang."

"Mokorokoto." Aku ambil dompet dan memberinya uang. Diambilnya dengan cepat dan dia mengucapkan terima kasih.

"Siapa ayahnya?"

"John Chimuti." Nama yang sangat familiar dan dengan cepat aku tahu dia akan bergabung dengan gadis yang tinggal bersama orangtuanya karena ditinggal lari oleh ayahnya.

Kami berpisah dan dengan susah payah aku berjalan. Udara sangat pengap dengan asap kayu. Tak seorangpun mampu membeli Parafin. Jika kamu melihat banyak orang yang menyapaku sepanjang jalan. Aku merasakan aura kearaban, kekerasan, inovasi, kemiskinan dan kebahagian namun ada satu hal keputusasaan. seperti terjebak didalam lobang dan kita tidak bisa memanjat untuk keluar. Seperti melihat pesawat yang terbang di awan dan kita tidak pernah bisa diatasnya.

Aku sampai di rumah orang tuaku. Berdiri ragu-ragu didepan gerbang. Aku ingin berjalan percaya diri seperti dulu namun kugoyangkan rantai gerbang dan berharap seseorang membukakan pintu untukku. Plato dan Aristoteles lari kearahku, dan menggongong dengan keras, namun dengan cepat mengibaskan ekornya begitu mengenaliku. Rumah itu berwarna sama dengan bungalo pink dengan atap asbes tempat dimana aku dibesarkan. Aku dengar asbes tidak baik untuk kesehatan, namun hampir setiap rumah disini beratap asbes. Sebuah tirai terbuka dan aku melihat seseorang mengintip dari sana.

SInar mentari menerpa wajahku, tak ada yang datang untuk membukakan pintu. aku bunyikan kembali rantai pintu gerbang. ingin aku putar balik dan pergi namun kata hatiku aku harus berada di acara peringatan kematian Robert. Aku memanggil mereka untuk membukakan gerbang.

"Pergilah." Terikannya sperti peluru mengagetkan, setengahnya aku menduga akan mendapatkan reaksi seperti ini. Tidak ada kesepakatan damai walaupun untuk urusan peringatan Kematian Robert. Aku harus pergi sendiri kesana.

"Vimbai, kami tidak mengharapkan kamu datang."

"Dia Saudaraku juga," kataku.

"Sama saja. setelah segala sesuatu yang terjadi......" Saudarakau Fungai anak ketiga dikeluarga tiba-tiba muncul dari toko di sudut sambil membawa sekantong kecil tepung jagung.

"Tidak terpikir olehku mereka akan membiarkanmu masuk."

"Aku gak peduli." kataku berbohong. "Bagaimanapun aku akan mengunjungi makamnya.

"Bagus itu. Kamu tahu aku netral dalam permasalahan ini, tetapi aku berharap kamu bisa membicarakan ini karena kita adalah keluarga"

"Harusnya kamu berkata itu kepada mereka."

Fungai mengantakanku ke statsiun bis. Dia membayangkan dirinya adalah Filsuf dan bahkan telah menyelesaikan satu tahun di UZ dengan keberhasilan yang luar biasa. Itulah sebabnya anjing-anjing itu memiliki nama-nama aneh dari orang-orang yang menurutnya adalah filsuf hebat. Robert telah menyelesaikan biaya kuliah Fungai, namun setelah dia meninggal. Fungai keluar kuliah karena tidak ada uang untuk biaya hidup. Kami ngobrol segala seuastu kecuali untuk hal yang menyebabkan perselisihan. Fungai menceritakan dia membentuk group filsafat yang mengadakan pertemuan setiap sore untuk mendiskusikan sesuatu dibawah mentari. Aku janji padanya suatu hari akan datang untuk melihatnya jika dia berjanji untuk mengunjungi rumahku suatu saat. Luka itu masih segar, semangatnya masih tinggi. Sangat mengecewakan sebagai keluarga tidak bisa menyelesaikan perselisihan materi  dan bersama-sama untuk melakukan upacara peringatan. Tak bisa kubayangkan perasaan Robbert jika menyaksikan keburukan kami. Tidak mungkin ini yang diinginkannya.