× Home Polling Quiz Dictionary Login
Avatar

Lelaki yang Mendambakan Emas.

August 27, 2020 Resensi 42 Views


Artikel ini terjemahan bebas BAB I dari buku The Richest Man In Babylon yang ditulis oleh George S. Clason dan diterbitkan di New York oleh Signet pada tahun 1988.

Bansir pembuat kereta Bailonia, benar-benar berkecil hati. Dari tempatnya dudu tembok rendah yang mengelilingi pekarangannya, dia menatap dengan sedih rumahnya yang sederhana dan ruangan tempatnya bekerja dimana dia berdiri dengan Sebagian kereta yang sudah selesai.

Istrinya berulang kali muncul di balik pintu, dan dengan kerlingan matanya yang tersebunyi mengingatkan padanya bahwa kantong makanan hamper kosong dan dia harus segera menyelesaikan kereta yang dibuatnya, memalu, memotong dan memoles, meregangkan kulit di roda dan menyiapkan pengiriman agar dapat mendapatkan uang dari konsumennya yang kaya.

Meskipun demikian, tubuhnya yang gemuk, berotot duduk dengan kokoh diatas dinding. Pikirannya yang lambat berjuang dengan sabar untuk permasalah yang tidak diketemukan jawabannya. Terik mentari tropis, ciri khas lembah Eufrat, menghajarnya tanpa ampun butir keringat di alisnya terbentuk dan tanpa disadarinya menetes  kebawah tersesat di hutan berbulu di dadanya.

Diluar rumahnya menjulang tembok bertingkat tinggi mengelilingi Istana Raja. Didekatnya membelah cakrawala biru menara bercat dari Kuil Bel. Dalam bayang-bayang kemegahan itu rumahnya yang sederhana dan rumah-rumah lainya jauh kurang rapi dan tidak terawat dengan baik. Inilah Babilonia --sebuah campuran kemegahan dan kemelaratan. kekayaaan yang mempesona dan kemiskinan yang kotor berbaur tanpa rencana dan sistem dalam benteng pelindung kota.

Dibelakangnya, apakah peduli untuk berbalik dan melihat kebisingan kereta orang-orang kaya yang penuh berdesak-desakan disamping pedagang pasir dan pengemis yang bertelanjang kaki. Bahkan orang kaya akan menyingkir memeberikan jalan untuk para budak urursan raja yang membawa air yang dituangkan ke kantor kulit kambing untuk menyirami  taman gantung.

Bansir terlalu asyik dengan masalahnya sendiri untuk mengindahkan dan mendengarkan keriuhan kota. Dentingan tak terduga dari alat kecapi yang sangat dikenalnya membangunkan dari lamunannya. dia menoleh ke wajah yang sensitif,  tersenyum sahabatnya -- Kobbi sang musisi.

"Semoga Tuhan memberkatimu dengan kebebasan yang luas, wahai teman baikku", Kobbi memulai dengan memberikan salam hormat.

"Namun, kelihatannya Tuhan mulai bermurah hati hingga kamu tidak lagi perlu bekerja. Aku gembira dengan keberuntunganmu. Lalu aku akan berbagi denganmu. Berdoa dari dompetmu pasti gemuk karena kalau tidak kamu pasti sudah sibuk di bengkel. Ambliah dua Syukal dan pinjamkan kepadaku sampai pseta bangsawan malam ini untuk aku kembalikan.

"Jika aku memiliki dua Syikal," Bansir menanggapi dengan bermuram durja. "Tidak kepada semua orang aku dapat meminjamkannya, bahkan ke kamu teman baikku, karena mereka akan menjadi keberuntunganku. tak ada seorangpun meminjamkan seluruh kekayaannya, pun kepada teman baiknya.

"Apa?" Kobbi berteriak dengan terkejut.

"Kamu tidak memiliki satu Syikal di dompetmu. namun kamu ongkang-ongkang diatas tembok!.

"Kenapa tidak kamu selesaikan keretamu?"

"Bagaimana kamu akan memuaskan nafsu makanmu?"

"Ini tidak seperti dirimu temanku, Dimana energi yang tak penrah habais yang kamu miliki?"

"Ada apa denganmu?"

"Apakah Tuhan telah memberimu masalah?"

"Siksaan dari Tuhan itu pasti." Bansir setuju.

"ini bermula dari mimpi yang tidak masauk akal. Dimana aku orang yang berarti. yang disabukku tergantung dompet yang penuh dengan koin yang dapat bebas aku lemparkan ke pengemis. juga ada kepingan perak yang bisa kau gunakan untuk  membeli perhiasan istriku dan apapun yang aku inginkan untuk diriku sendiri. Masa depanku yang lebih pasti dan tidak takut untuk membelanjakan perak. Aku merasa mulia. dan kamu tidak akan mengenalku sebagai teman yang bekerja keras. Tidak pula mengenal istriku yang wajahnya bersinar kebahagiaan. Dia akan menjadi seperti gadis saat kami pertama kali menikah dulu.

 

 

--Bersambung--