× Home Polling Quiz Dictionary Login
Avatar

Sang Penata Rambut Harare (Bab 4)

August 28, 2020 Novel 73 Views


The Hairdresser of Harare sebuah karya sastra karangan Tendai Huchu, pertama kali dipublikasikan tahun 2010. Mengisahkan kehidupan Zimbabwe Kontemporer dilihat dari sudut pandang Sang Penata Rambut yang bekerja di sebuah Salon di Kota Harare.

Aku terlambat lagi Senin ini. Kali ini Nyonya Khumalo sendiri yang menyambutku.

"Ini Bisnis, Vimbai! Pelanggan menunggumu dan kamu pelayannya", serunya saat aku melangkah masuk. Agnes terkekeh saat aku mempercepat langkahku.

"Maafkan saya Nyonya, karena Kombis dari Kamfinsa penuh sesak",

Aku heran apa yang dilakukan nyonya pagi-pagi. Dia terlihat agak gugup sambil memperhatikan mobil yang berjalan melambat di seberang jalan. Aku sedang mengerjakan Sylvia, satu dari pelanggan kami di bak pencuci. Tidak ada waktu untuk minum teh kalau ada bos disini. Suatu hari ini kalau cukup uang akau akan memiliki salon sendiri, aku berpikir sambil jemariku menyusuri rambut Sylvia. Sylvia adalah seorang perawat di Parirenyatwa dan orang di bidang medis selalu siap membantu. Mungkin suatu saat akan membantuku untuk loncat antrian jika diperlukan. Padahal Tuhan melarang aku sakit.

Rambut Sylvia lurus, kecuali di bagian tungkuk tumbuh rambuta asli keriting.

"Kamu seharusnya jangan terlalu lama datang kesini untuk di atur lagi. Ini sudah banyak yang tumbuh",

"Aku tahu, tapi belakangan ini susah cari uang"

"Jangan kawatir, aku akan memberimu diskon hari ini", potong Nyonya Khumalo dan dengan cepat aku menambahkan

"Ini kunjunganmu yang kesepuluh jadi kamu pantas untuk mendapatkannya".

Ada sesuatu yang salah hari ini dan aku merasakan aura ketengangan udaranya. Aku butuh beberapa saat untuk menyadarinya.

"Agnes keluarlah coba lihat di jalan", kata Ny. Khumalo.

"Itulah mengapa Nyonya seharusnya tidak mengambil orang dari jalanan", gurau Charlie Boy. Dia masih menangani pelanggan dengan potongan rambut yang lusuh seperti tahun delapan puluhan.

Aku mengernyitkan hidungku ketika relaxer Revlon kusemprotkan di rambut Sylvia.

Kasih tahu aku jika di kepala mulai terasa kesemutan. Dia tahu betul risikonya, aku ingat ketika pertama kali dia datang kulit kepalanya keriput, terbakar oleh Glent T, barang lokal yang mengerikan itu terjadi beberapa minggu sebelum akhirnya dia bisa menata rambut secara profesional dan dia tidak pernah lagi berpindah darinya.

Agnes kembali dengan menggelengkan kepala.

"Apa sudah kamu perhatian dengan baik", Tanya Nyonya Khumalo.

"Sudah mama dan tidak ada seorangpun".

Nyonya Khumalo terlihat sedih, dia melempar buku kas ke atas meja, lalu mengambil ponselnya, tidak ada signal dan dia melangkah keluar berkeliling mencoba sampai mendapatkan signal.

"Dumisani, dimanakah kamu? Aku Nyonya Khumalo, tolong telepon balik jika kamu telah mendengar pesan ini, kami lelah menungggumu". Dia memutuskan telepon dan mendesah.

"Mungkin dia sedang ada masalah".

Kami semua sepakat, ini bukan Boss yang kami kenal, bagaimana mungkin dia menjadi sangat toleran dengan seseorang yang tidak masuk kerja di hari pertamanya. kendati kami tahu ada seratusan penata rambut yang menginginkan pekerjaan ini. Nyonya Khumalo menyingsingkan lengan bajunya dan meminta antrian pelanggan berikutnya untuk mendapatkan giliran. Di Zibabwe kamu harus menguasai segalanya. Nyonya Khumalo adalah penata rambut, petani, pedagang, Konsultan TI, apapun kamu menamainya, dia mampu mengerjakannya.

Hanya Agnes yang berani mempertanyakan hal ini.

"Apa istimewanya dia? Kita bisa mendapatkan penata rambut lainnya".

"Ada sesuatu yang berbeda dengan anak itu, aku melihat dari cara dia mengerjakan gaya rambut Matilda. Dia tahu bagaimana melakukan pekerjaan lebih baik dari kalian semua di sini.  Itu sangat mengagetkan, siapa yang dia maksud, aku atau kah gadi-gadis selain aku?

Aku masukkan CD terbaru Papa Wemba, artis Congo favoritku kedalam Pemutar CD. Salon tidak akan lengkap tanpa nuansa Rumba kecil, Bahkan Nyonya Khumalo ikut menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama dan seketika tampak kembali menjadi wanita muda yang seksi.

"Adakah Kofi Olomide atau Kanda Bongoman", seru seorang pelanggan.

"Kami memiliki apapun yang kamu inginkan, dijamin seratus persen memuaskan",  Hey ganti CD itu. Agnes meletakkan Kanda Bongoman dan pelangganpun tertawa. Suara gitar dan irama lagu dari Congo menggema sampai dijalanan, ketika kami ingin berbicara, kami harus teriak melebihi suara musik. "Bawakan kesini sisir itu, lakukan ini, lakukan itu dan salonpun menjadi hidup.

Seorang anak laki-laki pagi itu datang, usianya sepantaran dengan anak perempuanku. dia mengenakan celana pendek dan T Sirt warna biru yang ketat smpai-sampai pusarnya terlihat.

"MaFreezts", katanya smabil menurunkan kotak besar yang dia bawa, kepalanya terlihat tidak terawat.

Kami semua membeli Es Lolli Beku lebih karena simpati dari pada karena teriknya hari. dia datang setiap hari kada kami juga tidak membeli apapun. begitu banyak anak seperti dia yang berkeliling kota. Aku tergetar membayangkan jika anak perempuanku meninggalkan sekolah dan mengurus dirinya sendiri. Aku teringat ketika Dewan kota mengumpulkan anak- anak yang bolos sekolah dan anak jalanan ke Panti Asuhan. Sayangnya tindakan seperti itu tidak berhasil. Dia mengucapkan terima kasih dan pergi melanjutkan jualannya. Nyonya Khumalo memperhatikan sampai sirna dari padangan. Wajah iba keibuannya nampak, namun dia sudah terlalubanyak tanggungannya.

Sebuah Mercedes berwarna hitam mengkilat merapat di depan. Agnes mengecilkan suara musik, Dia adalah pelanggan utama kami, Jantungku berdetak kencang, Sopir pribadinya berlari memutar membukakan pintu untuknya, Aku kecewa dia tidak mengajak suaminya datang.Suaminya sungguh baik sambil menunggu istrinya selesai di salon dia biasa mengobrol. Wanita itu adalah Menteri M__ (setelah apa yang terjadi, aku tak pernah kuasa menyebut namanya). Keluar dan berjalan ke arah kami. Nyonya Khumalo berdiri disampingnya sambil meminta Memory untuk membersihkan rambut yang berceceran di lantai. Yolanda menyiapkan kursi dan berdiri dibelakang menteri dan mempersilahkan masuk.

"Sungguh bahagia bisa bertemu kembali".

"Bagaimana kabar Anda? SIlahkan Duduk, dengan suara bergetar Nonya K merapatkan kedua tangan dengan takzim dan Bu Mentri merespon dengan baik. Mentri M__ sebulan sekali melakukan perawatan rambutnya. Dia dibesarkan di lin gkungan Pinggiran Chivhu_Charter, yang kemudian ternyata wilayah yang sama dengan Nyonya Khumalo, Kebanyakan orang mengira Nyonya Khumalo bersuku Ndebele, tetapi ternyata dia bersuku Shona. Suaminyalah yang bersuku Ndebele, Bu Mentri memanggilnya Vatete, Bibi, karena dengan berbagai trik mereka membangun hubungan berdasarkan kesukuan.

Mentri M__ bergabung dengan kelompok kemerdekaan saat dia berusia 14 tahun. Ikut latihan militer di Zambia bersama ZANLA dan dengan gagah berani berperang mnelawan tentara Rhodesian,. Setelah kemerdekaan dia memasuki dunia politik dan melanjutkan sekolah lagi. Di tahun 80-an dia menjadi wakil mentri dan kemudian menjadi mentri penuh.Dia berkacamata dan memiliki celah diantara giginya sehingga ketika berbicara seperti ada suara siulan.

"Vimbai, kamukah yang akan menata rambutku?" Dia selalu bertanya walaupun dia tidak pernah mengijinkan orang lain menyentuh rambutnya. aku menyerahkan pelangganku kepada Yolanda untuk diselesaikan.

"Bagaimana kabar Chiwoniso? Benar kan itu nama anakmu. aku berharap suatu saat bisa membawakan sesuatu untuknya.

"Dia baik-baik saja. Ibu benar itu nama anak saya. aku kagum dia hapal nama-nama kami walaupun kami bukan siapa-siapa.

"Bagaimana kabar ibumu?" Tanyanya kepada Memory.

"Sudah lebih baik tetapi terkadang masih ada masalah dengan tulangnya ketika hari hujan."

Bu Mentri mengangguk simpatik.

"Apakah sudah mendapatkan pengobatan sesuai yang dibutuhkan?"

"Iya namun mahal. Semua serba susah sekarang ini.

"Pergilah ke apotik di Jalan Angwa. Katakan aku yang mengutusmu ke sana dan mereka akan memberikan apa yang kamu butuhkan. Pastikan resepnya ditebus.

Memory merapatkan kedua belah tangannya dan mengucapkan terima kasih, matanya berkaca-kaca,

Bu Mentri pura-pura tidak memperhatikan dan menoleh ke Yolanda.

"Apakah kamu masih sekolah malam?"

"Saya sedang menjalani Ujian Akhir Bu"

"Kamu gadis yang baik, kamu akan lulus. Negara membutuhkan anak muda berpendidikan sepertimu. kamu masa depan bangsa. Yolanda menundukkan kepalanya karena malu. Dia ikut sekolah malam Level-A karena orang tua nya tidak mampu menyekolahkan di sekolah yang bagus. dia dapat saja bersekolah di Sekolah Level-B di kota, namun dia gadis berkelas dan menolaknya.

"Kamu siapa?" tanya Bu Menteri kepada pelanggan yang duduk di pojok ruang tunggu.

Dia terlihat kaget spontan berkata

"Aku?" tanyanya.

Bu Mentri memberi isyarat iya dengan sabar

"Aku Patience Chidhakwa".

"Chidhakwas dari Buhera?"

"Iya".

"Berapa nomor ponselmu?"

"Nol, satu, satu, tiga, lima..."

"Bukan.. seharusnya kamu menjawab double sembilan, sembilan, dua, sepuluh". kata Nyonya Khumalo mengikuti lagu lama yang pernah hit di tahun delapan puluhan. Dia tertawa keras.

"Dia terlalu muda untuk mengetahui itu" Bu Mentri tertawa. Jadi patience kamu saudara perempuanku karena keponakanku menikah dengan tetanggamu"

Siapa yang tidak bangga ketika mereka memiliki hubungan kekerabatan dengan Bu Mentri. Aku suka gaya berbicaranya dan pembawaannya yang rendah hati dan menyatu bersama kami-kami padahal dia orang yang kaya. dia berbicara dengan Nyonya Khummalo tentang pertaniannyaa dan mendukungnya. ketika dia pergi kita merasa istimewa bahkan saat setelah kami menatap kilau mobilnya yang jauh melampaui mimpi terliar kami.

--Bersambung--